Tit..Tit..Tittit
Suara handphone ku berdering, pertanda ada pesan masuk. Ku
buka lalu ku baca. hmm, aku tersenyum, ada rasa malu sekaligus bangga.
" Wah, keren tu beritanya, laporan langsung hanya untuk
memberitakan kegiatan UNAIR. Di bayar berapa, brow"..
Tulisaan itu jelas
dari sahabat ku yang sama sama bergelut dalam media informasi, yang (mungkin)
kebetulan saja mendengar laporan langsungku di radio, tentang kegiatan UNAIR
(Universitas Airlangga) yang bekerjasama dengan Pemkab banyuwangi melakukan
Bhakti sosial Terpadu bersama perhimpunan Anatomi Indonesia Komisariat
Surabaya, yang berlangsung di Lingkungan papring, kelurahan kalipuro, Kecamatan
kalipuro.
Pukul 09.40, aku baru sampai di lokasi pemeriksaan kesehatan
hewan oleh pihak UNAIR dan juga dari Dinas Peternakan banyuwangi. Tepatnya di
Lingkungan Papring. saat kepala Disnak menelponku, lalu kita bertemu, kita
melakukan wawancara dan ku laporkan secara langsung di radio ( Jam 10.15).
setelah itu, kami mengunjungi lokasi II yan pemeriksaan hewan ( Lokasinya dekat
dengan rumahku, kurang lebih 100 meter). Aku temui pihak dokter UNAIR, namanya
Pak Joko (juga). kita wawancara dan lagi lagi ku laporkan secara langsung di
radio tempatku menginformasikan peristiwa yang terjadi di Banyuwangi (tepatnya
jam 10.45) aku laporan langsung. Karena jam 11 siang, team dari UNAIR akan
melanjutkan kegiatannya menikmati objek wisata di banyuwangi.
" Keinginan hati sih mau aja kalo ada yang membayar,
bro. Tapi aku tidak tahu, siapa yang akan membayarku. Sebab ini sudah menjadi
kewajibanku untuk mempublikasikan peristiwa yang terjadi, apalagi kegiatan ini
di laksanakan di rumahku, di kampungku". Jujur saja aku emosi, bukan
kenapa kenapa, dia tidak tahu kondisiku saat ini. Aku lapar, aku belum sarapan,
ketika sampai di lokasi (Lapangan Kelurahan kalipuro) aku tidak dapat apa-apa
walau sudah wawancara dengan Sekertaris daerah (sekda banyuwangi, Bapak Sulih).
Aku juga wawancara dengan pihak UNAIR (bapak Joko). tapi aku tidak dapat uang
tidak pula ada yang menawari makanan. dan itu semua tak ada dalam fikiran ku,
agar semua yg telah ku lakukan mendapat bayaran dan makanan.(Sampai saat ini
aku belum bisa meracuni fikiran ku dengan mengutamakan uang saat liputan).
Klik.!! Pesan ku kirim....
Langsung ku masukkan hanponeku kedalam tas pinggang, lalu
setelah team Disnak dan Unair meninggalkan lokasi II. Aku pulang kerumah, aku
sarapan, walau sudah menunjukakan pukul 11.20.
Aku tidak tahu, apakah karena kehadiran Unair yang memicu
kontroversi di banyuwangi, membuat sebagian awak media enggan untuk meliput.?
sebab tak ada media yang terlihat. atau karena memang tidak di konfirmasikan
oleh pihak pihak terkait..? Aku tak mau berburuk sangka, karena aku hanya ingin
mengatakan kepada dunia, bahwa Kampungku, papring.! ada kehidupan, ada kegiatan
kemasyarakatan, ada nyawa di papring. itu saja. ( Lingkungan papring, walau
masuk sketsa lingkungan yang berarti bernuansa kota, tapi pada kenyataannya ,
Papring adalah wilayah terpencil yang ada di sudut utara kota Banyuwangi. jalan
yang terjal dan berbukit plus penuh lobang di sepanjang jalan, terkadang
membuat image Papring itu daerah yang tertinggal. Hingga jarang ada pihak
Pemkab yang mau dan berani memperbaaiki sarana dan prasarananya. Padahal, di
papring, banyak sekali kerajinan-kerajinan yang bisa di jadikan kerajinan
unggulan dengan bahan utama bambu. Ada
juga pertaniannya yang masih mampu memberikan penghidupan, dan ternak yang gemuk
telah membuat ternganga pihak UNAIR saat melakukan pemeriksaan hewan.)
Setelah sarapan siang, ku ambil hape ku, dan aku sudah
berencana untuk menulis " Maaf, bro. aku tahu, banyak di antara kita yang
sering melakukan peliputan hanya karena faktor uang. Dan secara manusia wi, aku
juga berfikiran sama, aku ingin di beri uang. tapi, bro.aku tak tak pernah di beri, lalu apakah aku harus
maksa, menekan, dan malak narasumber..? Aku memang di kenal bodoh, dungu dan tolol
saat tak ada kompensasi diam saja. tak masalah, bro. ini konsekwensiku.
Oya , Bro..sejak aku mengenal AJI (Aliansi Jurnalis
Independent), aku di beri menu pagi tentang kode etik jurnalis. Ku baca dengan
penuh selera, ku tanya apakah ini hanya formalitas saja.? dan ternyata, Kode
etik jurnalis, wartawan, Reporter dan kuli tinta itu sama. Hanya tidak semua
'juru info' itu mampu melaksanakannya. Tak ada yang selera untuk membaca
apalagi melaksanakannya. Dan ketertarikanku pada AJI ya karena uang itu. uang
bukan yang nomor satu.! Maaf, bro...
Saat pesan singkat (tapi kenyataannya bisa ku katakan pesan
panjang) ingin ku kirim, handphone ku
menerima notifikasi, bahwa pesan yang pertama gagal terkirim. hmm......Ya
sudahlah, emosi ini terpaksa ku simpan di KONSEP hapeku. lalu ku tuangkan di
sini..
Maaf, sobat...........
0 komentar:
Posting Komentar